Senin, 07 April 2014

Hari 11 : 7 April 2013


         Saya bangun pagi dan langsung mandi. Selesai mandi, saya buru-buru berdandan. Hm, dilihat-lihat, mata saya kok sembab ya? Apa karena sudah lebih dari seminggu kurang tidur?  Atau karena keseringan nangis? Ah, pakai bulu mata palsu saja deh. Cling…bulu mata cetar membahana terpasang. Iih, kok malah kayak Minnie Mouse sih? Yaah, nanti orang-orang pikir saya yang mau dilamar. Mending saya cabut lagi saja deh.
Kelar dandan, saya bengong di depan lemari baju yang terbuka lebar. Hm, pakai baju apa ya? Entah kenapa, hati saya kepingin pakai warna gelap. Tapi kalau pakai warna gelap, sepupu-sepupu saya bisa mikir hati saya yang sedang sedih tingkat dewa. Acara lamaran bisa jadi nggak enak. Ya sudah, saya pun memilih warna putih dengan corak bunga merah abstrak saja. Duhh, mana sudah terdengar suara teriakan Bertrand dari lantai bawah lagi… Saya kelamaan dandannya, begitu keluhnya. Kami kan harus menjemput Papa dan Mama dulu kemudian ke daerah Kelapa Gading.
            Setibanya kami di rumah Tante Kiet ( maminya Aldo ), rumah yang berdesain klasik mewah itu tampak lebih meriah dengan banyaknya hantaran lamaran. Kotak-kotak merah disusun cantik sedemikian rupa. Beberapa sepupu sudah datang dan asyik mengobrol. Begitu Bertrand datang, semua langsung menggerumuni kami.
            "Gimana lu sekarang?" / "Nggak apa-apa, kan?" / "Kapan hasil test keluar?". Begitu rata-rata pertanyaan dari para sepupu.
            " Aaahh, nggak apa-apa. Sehat-sehat. Ini orang-orang aja pada terlalu khawatir, wong gua biasa-biasa aja koq," jawab Bertrand.
            Bertrand terlihat santai dan tertawa-tawa. Senang sekali saya melihatnya. Tiba-tiba Rubby menarikku dan kami pun terlibat dalam percakapan serius.
Rubby              : "Ros, si Bertrand beneran nggak apa-apa?"
Rosi             : "Hadeehh, nggak tau Rub. Gua sih takut benernya tapi kemarin ada yang doain, lumayan lega dikit. Nanti gua cerita deh kalo ada waktu. Senin gua ke Sing lagi, beneran doain ya Rub.”
Rubby              : "Iya, gua doain terus koq. Lu tau nggak, gara-gara peristiwa ini gua baru sadar ternyata gua sayang bener ama lu. Ama Bertrand juga."
Rosi                 : "Thanks Rub. Selama di Sing, gua baru tau loh sodara sama teman yang benar-benar care. "
Rubby              : "Gua beberapa hari yang lalu tidurnya nggak enak. Bangun-bangun jam empatan gitu deh, inget lu berdua. Terus gua nangis. Si Michel sampe kaget liat gua, dia nggak nyangka gua sesayang itu ama kalian wkwkwk."
Rubby              : "Eh, pagi-pagi, pas nyetir mobil, di radio ada lagu BCL soundtrack­-nya film Habibie, makin galaulah gua. Gua gini karena gua pernah di posisi lu. Waktu gua baru nikah, si Michel batuk-batuk terus. Tiap malem batuk sampe gua nggak bisa tidur. Kadang napasnya kayak sesak. Kalau lari keliling kompleks juga kadang nggak kuat, suka jalan sambil bungkuk-bungkuk ."
Rosi                 : "Hah? Koq gua nggak tau ?!! Koq nggak cerita?"
Rubby              : "Iya, gua nggak cerita siapa-siapa. Sama bonyok juga nggak cerita. Takut mereka khawatir. Akhirnya setelah agak lama, gua cerita ke mertua gua. Mertua gua kaget trus nggak lama dari itu mertua gua ketemu tukang ramal di Singapore. Sialan itu tukang ramal, bilang Michel umurnya pendek. Tapi gua nggak percaya, trus ada deh kisah kesaksian gua. Nanti gua cerita. Pokoknya percaya aja Tuhan baik, mujijat itu beneran ada."
Rosi                         : "Jadi sembuhnya ke dokter nggak?"
Rubby              : "Ke dokter Chan Tiong Beng di Singapore. Benernya dari kemaren-kemaren gua mau telepon / bbm panjang lebar ama lu, tapi gua tau kalau lu pasti lagi nggak mood."
Rosi                 : "Oooohh yang Michel batuk-batuk itu. Gua kira batuk biasa, nggak tau sampe separah yang lu ceritain diatas. Thanks berat ya Rub. Lu baik banget loh and you know me so well."
            Setelah semua orang bergembira bercengkrama, kami serombongan pergi ke salah satu restoran terkenal di Kelapa Gading. Acara lamaran Aldo - Anita digabung dengan acara ulang tahun Anita. Meja-meja bundar sudah disiapkan dan saya duduk bersama para sepupu.
            Di sana saya tidak dapat sepenuhnya menikmati acara. Makanan yang memenuhi meja keliatannya enak-enak. Namun selera makan saya raib entah kemana. Saya paksakan mengambil setiap menu sedikit saja, kalau sampai nggak makan sama sekali kan nggak enak sama yang ngundang. Wong lagi acara hepi-hepi, haram hukumnya saya bermuka muram.               Penyakit mood dan rasa khawatir mendadak menyerang lagi. Waduh, kacau ini sih...jangan sampai tiba-tiba saya nangis. Eh, pucuk dicinta ulam tiba. Omnya Anita tiba-tiba berdiri di samping saya menawarkan mik buat karaoke.  Saya sambar mik dan saya putuskan nyanyi apa aja yang sedang ada di layar tivi. Suara ngepas nggak apa deh, daripada nangis. Betul, nggak?
            Akhirnya acara pun selesai dan kami balik ke rumahTante Kiet. Di sana saya baru bisa ngobrol dengan papanya Aldo saat pada pamitan.  Papanya Aldo adalah seorang paman yang sangat baik, bijaksana dan humoris.
Papa Aldo      : "Gimana Ros?"
Rosi                 : "Nggak tau, Om. Hasil biopsi besok baru keluar. Bantu doa ya Om. Rosi takut."
Papa Aldo      : " Iya, tenang. Nggak ada apa-apa. Hasil tumor maker-nyanya emang tinggi?"
Rosi                 : "Enggak tinggi semua jauh dibawah nilai rujukan.”
Papa Aldo      : "Ya sudah, pasti semua bagus. Harus optimis dong. Bertrand masih muda gitu. Kemaren mamanya Aldo juga sembahyang, Om bantu pasang lilin hehehe."
Rosi                 : "Makasih ya, Om"
            Perjalanan Kelapa Gading -  rumah mertua di Jakarta Barat membuat saya penat. Mata perih dan kepala pun terasa berat. Saya benar-benar ingin pulang, diam di kamar untuk berdoa atau baca Alkitab. Sesampai di rumah mertua, saya lihat ada mobil Ko Jhonson (Sepupu Bertrand). Ci Ribkah - istri Ko Jhonson terlihat kaget melihat Bertrand dan berseru, "Loh…loh…koq ada Bertrand. Nggak apa-apa kamu?"
            Entah mengapa saat itu saya kesal sekali mendengarnya dan saya jawab dengan agak ketus, "Nggak apa-apa, emangnya ada apa Ci?"( Maaf ya Cici, saya sudah ketus)
            Terus terang saya bingung sekali. Setahu saya, semua orang tahu Bertrand sakit, ada benjolan di paru. Kami pergi dari Selasa itu dalam rangka check up dan sampai sekarang belum ada vonis apa pun dari dokter mengenai sakitnya Bertrand. Hasil PET Scan jelek itu yang tahu hanya saya dan Lucia.
            Di ruang makan keluarga akhirnya saya nggak enak hati sendiri sudah ketus pada Ci Ribkah. Ko Jhonson dan Ci Ribkah ini pasangan suami istri yang sangat baik, mereka pendiam, perhatian pada saudara dan juga hamba Tuhan yang taat. Saya memutuskan minta maaf atas keketusan saya.
Rosi      : "Ci, tadi maaf ya. Saya ngomongnya agak keras. Abis capek dan khawatir menunggu hasil besok." ( Minta maaf tapi masih excuse. Jangan ditiru!)
Ci Ribkah   : "Iya, ndak apa-apa. Pokok'e kita berdoa Bertrand cepet sembuh."
Rosi       : "Saya kesel beneran Ci. Udah capek, bingung, entah siapa yang bikin gosip Bertrand kena kanker. Sampe ada yang BBM tanya Bertrand apa bener kanker ? Wong hasil belum keluar. Bertrand sama saya itu benar-benar perlu dukungan, bukan omongan yang enggak-enggak kayak sekarang. Bertrand sampe marah. Saya juga marah, Ci. Capek Ci..."
Rosi           : "Ada lagi omongan, ngapain kami pulang ke Jakarta cuma dua hari. Buang-buang uang buat tiket sama mentingin lamaran Aldo. Aduh Ci, saya ini ada anak tiga orang. Semua masih kecil-kecil. Mana bisa saya tinggalin lama-lama? Bisa ketemu anak, bisa meluk mereka, itu obat buat saya. Kalau nggak inget ada anak, saya udah ambruk dari kemaren-kemaren. (Nggak kerasa, saya sudah teriak nangis disini. Meledak sudah emosi saya selama berhari-hari. Menulis ini pun saya menangis kembali)
Ci Ribkah : "Iya, Cici ngerti. Kamu yang sabar ya. Dampingi Bertrand. Orang ngomong macem-macem yo wis...jangan didenger .”
Mama          : "Rosi capek ya? Ya udah pulang, tidur dulu. Nanti malam kita misa bareng ya."
                 Sebelum pulang, Ko Jhonson mendoakan kami. 
          Sehabis misa  pada pukul 7 malam, saya mendapat telepon dari Romo Yoseph  Gerungan O'Carm. Romo Yoseph merupakan romo sahabat keluarga kami. Saat ini Romo berkarya di biara Karmel, Baturiti Bedugul - Bali. Hampir setiap kali liburan keluarga ke Bali, kami menyempatkan diri menginap 1-2 malam di rumah retret Karmel, Bedugul. Tempatnya asri sekali, dengan kamar-kamar sederhana yang bersih, ruang doa dengan view gunung, gua Maria yang besar, kami bisa retret dan berdoa dengan sangat tenang.
            Romo Yoseph mengetahui kabar Bertrand dari SMS Mama. Romo menelepon saya karena tahu bahwa saya akan khawatir luar biasa. Romo mendoakan kami dan mengatakan sebagai istri, saya adalah tiang keluarga. Saya harus siap mendampingi dan menghibur Bertrand.
            Seusai telepon Romo, tiba-tiba saja saya mendapat dorongan untuk menelepon tante saya, adik Papi di Bandung. Saya memanggilnya Ooh Vera. Secara singkat saya ceritakan keadaan Bertrand dan minta dukungan doa dari Ooh Vera. Tante saya yang cantik ini merupakan hamba Tuhan. Sering mendapat panggilan membawakan ceramah dari gereja ke gereja. Ooh terdengar sangat kaget mendengar kondisi Bertrand dan berjanji akan membantu dalam doa.
         Sehabis semua urusan rumah beres, saya packing-packing kembali baju untuk kepergian kami besok subuh. Bingung kembali menata baju. Kemarin selama hampir seminggu, secara sengaja saya menaruh semua baju warna cerah. Saya tidak mau ada warna suram selama proses pemeriksaan. Sekarang warna cerah udah abis, baru tadi pagi dicuci sama mbak. Belom pada kering sekarang. Ya sudah saya sambar saja baju yang ada, toh hanya semalam kami pergi. 
                    Habis beres-beres dan berdoa, saya segera pergi tidur. Pak hansip seperti kemarin  tak kudengar memukul tiang hari lagi. 



                                             Kiri : Bertrand, Michel, Aldo, Nita
                                             Kanan : Rubby & Rosy


 
      Papi Teddy-Mami Senny, Romo Yoseph, Romo Dinong, Mama Elisabeth-Papa Henry

Minggu, 06 April 2014

Hari 10 : 6 April 2013

Hari 10 : 6 April 2013

Jakarta
            Rumah tampak sepi saat kami tiba, hanya Pinky, anjing Maltesse kami, yang dengan riang  gembira menggoyang-goyangkan ekornya menyambut kami. Mami sedang pergi menjemput anak-anak les dengan supir.
            Di meja makan sudah tersedia rebusan daun sirsak. Bertrand segera meminumnya. Tante Kiet (Adik mama mertua ) mengirim banyak daun sirsak beberapa hari yang lalu. Mami sudah merebus daun sirsak itu dari pagi. Pokoknya air daun sirsak sudah siap begitu Bertrand pulang, begitu bunyi pesan BBM dari Mami tadi pagi.
            BB saya berkedip kedip. Ternyata dari Lucia, ia menanyakan apakah saya sudah di rumah. Saya pun segera menjawabnya. Sedetik kemudian terdengar ring tone OST Candy-Candy bernyanyi riang. Pasti dari Lucia.
Lucia                :  "Ros…"
Rosi                 :  “ Apa? "
Lucia                : "Gua ama Jane ke rumah lu ya. Cabut yuk, makan."
Rosi                 :  "Gua dah makan. Mau di rumah aja Ah. Lagian belum ketemu anak-anak, nih."
Lucia                : "Mau sorean aja? Apa gua ama Jane ke rumah lu aja deh, ngobrol doang."
Rosi                 : "Nggak usah ah...nggak mood Lus...puyeng gua mikirin si Bertrand."
Lucia                : "Gimana dia sekarang?"
Rosi          : "Dia sih biasa aja, paling masih batuk-batuk sama kalau malem tenggorokannya kayak keluar suara. Gua takut Lus, itu hasil PET Scan gimana?"
Lucia          : "Ros, gua kasih tau pahit aja ya. Itu PET Scan kan emang jelek. Pet Scan biasanya emang akurat. Intinya emang ada "barang". Hasilnya apa tinggal nunggu biopsi. Lu harus kuat. Doa terus jangan lupa."
Rosi               : "Kayaknya lu nelepon gua bukannya jadi tenang, malah jadi makin galau. Nggak suka ati deh, ah."
Lucia                : "Yeee, ya udah gua jalan ama Jane ke sana."
Rosi               : "Ih ngotot, ogah ah. Nggak mau ketemu siapa-siapa. Mo merenung dulu."      (Sambil ketawa-ketawa)
Lusi                 : "Banyak gaya, ya udah. Ntar hasilnya apa kasih tau gua cepetan ya. Nggak tenang nih gua. Byeee..."
            Tak lama kemudian anak-anak pulang. Saya peluk dan cium mereka satu-satu. Sudah enam hari tidak ketemu mereka, kangennya setengah mati. Anak-anak pun berteriak kesenangan ketemu kami.
Patricia                 : "Mami, waktu Mami pergi, Pat berdoa lho."
Rosi                      : "O ya, doanya bagaimana? "
Patricia               : "Petris doa supaya Papi cepat sembuh. Sekarang Papi udah sembuh kan, Mami?"
Rosi               : "Iya, Papi sudah sembuh. Nanti Senin, Papi sama Mami pergi lagi ke Singapore ya, mau ketemu dokter. Cuma sebentar koq, Selasa udah pulang."
Patricia                 : " Iya Mami, Darren dan Fermi juga berdoa. Ema Bandung yang suruh kita doa."
            Saya menangis dalam hati mendengarnya, sungguh benar-benar terharu. Kami sekeluarga memang rajin ke gereja setiap Minggu. Tapi untuk doa pribadi, anak-anak tidak terbiasa. Saya juga lalai mengajarkan mereka untuk disiplin berdoa setiap hari. Akan saya buat doa malam bersama menjadi rutinitas kami setiap hari.
            Sore harinya saya mengobrol ringan sama mami. Mami sempat menegur melihat badanku yang sangat kurus. Tadi setiba di rumah saya sempat menimbang. Hasilnya 46.8 kg, sedangkan biasanya 49.5 kg.
Mami                    : "Aduh Rosi...kamu kurus amat ? Apa nggak makan disana ? Kalau kamu sakit nanti gimana?"
Rosi                     : "Iya Mam, nggak makan. Nggak ada yang enak, lagian lagi diet juga." (Saya jawab asal-asalan )
Mami                : " Bohong sama Mami. Terus itu mata kenapa turun gitu? Nggak tidur pasti."
Rosi                  : ( Pura-pura nggak dengar Mami ngomong )
             Hasil PET Scan tidak saya ceritakan, saya tidak mau membuat Mami khawatir. Saya cerita ketemu dengan Bu Ata, Sonya dan Deasy. Saya cerita tentang Sonya yang terbebas dari kanker indung telur. Saya juga cerita tentang Ko Herdi yang sembuh kanker paru stadium 3. Teringat ko Herdi, saya jadi  tergerak untuk menghubungi Ci Siska.
            Ci Siska menerima telepon saya dengan hangat. Mereka sudah pulang ke Jakarta pada hari Kamis dan akan balik lagi ke Singapore menunggu kabar dari dokter. Saya cerita bahwa Bertrand baru minum air rebusan sirsak mengikuti jejak ko Ferdi. Saya pun menyambungkan Bertrand agar mengobrol dengan Ko Ferdi. Bertrand dan Ko Ferdi pun mengobrol dan tukeran pin Bb. Mereka berjanji akan terus keep in touch mengabari kondisi masing-masing.
            Sore harinya Mama menelepon, mengajak kami makan malam bersama di rumah Mama. Dengan berat hati kami menolak karena Bertrand dan saya rasanya sangat lelah. Kepingin stay di rumah saja dan menghabiskan waktu dengan anak-anak. Untungnya Mama bisa memakluminya.
            Malam-malam sebelum tidur, saya curhat dengan Riris. Riris adalah suster Fermi. Dia bekerja dengan kami sejak Februari 2007. Sempat cuti 2 tahun karena melahirkan. Suaminya pergi meninggalkan dia ketika dia hamil tua. Ketika anaknya sudah bisa ditinggal, Riris kembali bekerja di rumah kami untuk menghidupi orangtua dan anaknya di kampung.
Riris     : "Sabar Bu, ini ujian dari Gusti Alloh. Saya sih yakin seyakin-yakinnya Bapak pasti sembuh. Wong udah ke dokter sama dikasih obat. Masa nggak ada perbaikan. Kalo di kampung, baru pusing, ini itu susah."
Rosi     : "Doain Bapak sembuh ya. Tiap malem kamu, Watni, sama si Fitri doa barengan."
Riris     : " Iya, iya...dari kemaren juga di doain. Itu Bu Lusi anter jemput, ibu-ibu ditempat les juga pada kaget denger Bapak sakit. Pada doain."
Rosi     : "Kamu cerita-cerita ya? Gosip aja, nggak usah cerita-cerita ama oranglah kalo ada apa-apa."
Riris     : "Ih, Ibu mah nuduh saya. Yang cerita itu si Darren. Darren bilang ama Bu Lusi ama orang-orang juga. Papi lagi sakit, lagi pergi ke Singapore...gitu ngomongnya, Bu."
Rosi     : "Haiyaa...ya sudahlah. Nggak enak aja saya kalo banyak yang tahu. Ngerepotin takutnya. Belom ntar pada nanya, saya bingung jawabnya."
Riris     : "Iya Bu..."
            Saat berbaring di ranjang, saya memikirkan perjalanan selama di Singapore. Saat berangkat dengan perasaan kacau sekacau-kacaunya, kini pulang kembali ke Indonesia dengan hati tenang. Pergi dengan beban yang teramat sangat berat, kini beban terasa sudah terangkat sedikit. Saya serahkan semua pada Tuhan. Doa pribadi saya isinya kini berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Dahulu saya selalu berteriak, minta kesembuhan, sekarang saya hanya minta yang terbaik. Saya minta kekuatan untuk bisa menerima apa pun hasilnya.
            Malam ini saya tidur cepat karena besok pagi harus siap-siap menghadiri lamaran Aldo. Ah, tidur di ranjang sendiri memang enak rasanya. Benar kata orang-orang, seempuk-empuknya ranjang di hotel, tetap lebih enak ranjang sendiri. Pak hansip hari ini tidak terdengar memukul tiang listrik. Malam mingguan kali ya ? Atau saya yang terlalu lelap hehehe



                                                                               Pinky

 
                                                                         Rosiana & Patricia
                                                                        (Anyer - Maret 2014)

Sabtu, 05 April 2014

Hari 9 : 5 April 2013


Hari 9 : 5 April 2013
            Saya terbangun dengan perasaan lesu.  Sungguh aneh mengingat kemarin malam saya tidur dengan perasaan damai. Ada apa? Kenapa sekarang malah lesu dan galau lagi? Saya merasa seperti menunggu vonis dari hakim yang mengetuk palu. Palunya hasil biopsi Bertrand.
            Sedangkan hasil PET Scan? Saya memutuskan tetap menyembunyikannya untuk sementara waktu dari Bertrand, Mama, dan Papa. Saya nggak mau mereka semakin sedih dan khawatir. Apalagi sekarang-sekarang ini Bertrand merasakan nyeri di dadanya terutama saat batuk.
            Saya pun langsung memberondong Bertrand dengan sederet pertanyaan. Sakitnya di sebelah mana? Bagian dalam atau luar? Menurut Bertrand, nyeri yang terasa karena bekas jarum biopsi. Kemarin belum terasa karena masih ada sisa anestesi, namun sekarang benar-benar terasa.
            Kuberanikan diri untuk meng-add pin BB Bu Ata. Untunglah nggak lama kemudian beliau menerimanya dan saya pun segera mengirim pesan BBM.
            Pagi, Bu Ata, apa kabar? Terima kasih atas firman dan doanya semalam. Kemarin saya rasanya damai sejahtera, tapi hari ini koq galau lagi?
            Saya termenung menatap BB, status pesan saya untuk Bu Ata hanya D (delivered, belum di-read). Ya sudahlah, aku berusaha positive thinking, mungkin Bu Ata sedang sibuk dengan urusan mandi dan makan pagi atau sedang Saat Teduh. Saya dan Bertrand pun siap-siap mandi, makan pagi dan berangkat ke rumah sakit untuk MRI otak.
            Tidak ada sedikit pun kekhawatiran saya atas hasil MRI otak. Entah mengapa, saya yakin sekali hasilnya pasti bagus. Saya benar-benar penasaran pada hasil biopsi. Menurut saya, hasil biopsi itu seperti pembenaran hasil PET Scan. Saya sudah terus menerus googling soal PET Scan dan hampir semua hasi pencarian google menyatakan PET Scan sangat akurat untuk memperlihatkan penyebaran kanker. Saya hanya bisa berdoa dan menunggu mujijat.
            Pukul 10 pagi Bertrand sudah mulai proses MRI, selesai kira-kira 45 menit. Selama menunggu, saya chatting dengan saudara dan teman yang cemas akan keadaan Bertrand. Salah satunya adalah dengan Herry, partner kantor saya.
            Herry bilang, "Nggak mungkin Ci, Ko Bertrand kena kanker. Kalo kanker kan ada beberapa titik, masa ini ngejendol gede gitu. Lagian Ko Bertrand kan nggak ngerokok. Udah tenang aja, nggak akan apa-apa.”
            "Moga-moga ya Boy,” jawab saya. Saya memang biasa memanggil Herry dengan Boy. Menurut saya, dia masih seperti anak kecil dan sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Herry berumur 29, single, anak gaul, pembawaannya supel, cuek, royal, suka bercanda, dan temannya  mulai dari yang muda sampai kakek-kakek. Kalau ada masalah, dia adalah pengambil keputusan yang cepat sekali. Ambil keputusan dulu, kalau ada apa-apa, nanti dibicarakan lagi.
             Sedangkan Aming partnerku satu lagi, kebalikan sifatnya. Aming sudah berkeluarga, pembawaannya tenang, dewasa, pendiam kalau sama orang yang tidak dekat, pemikir strategi yang jitu, rajin beribadah dan baca firman. Kalau ada masalah, Aming bisa berpikir sangat hati-hati dalam mengambil keputusan. Jangan cepat mengambil keputusan kemudian sesal di belakang, begitu katanya.
             Sekantor dengan mereka merupakan anugerah buat saya. Kami saling melengkapi satu sama lain.
            Selagi BBM-an, saya baru sadar pesan BBM saya untuk Bu Ata sudah R. Tapi kok nggak dijawab, ya? Lalu saya beranikan diri mengirim pesan lagi pada beliau untuk meminta ijin datang ke hotelnya. Saya ingin ketemu mereka lagi untuk minta didoakan kembali dan saya senang sekali mendengar sharing-sharing Bu Ata. Bu Ata kalau bercerita sangat seru, kadang lucu tapi tidak mengurangi kemuliaan Tuhan.
            Hasil MRI akan keluar jam 2 siang. Masih ada waktu untuk mengunjungi mereka sebentar saja sebelum mereka check out hotel dan pulang ke Indonesia. Namun, tunggu punya tunggu, pesan BBM saya hanya R saja. Wah, bentar lagi Bertrand sudah selesai nih, kalau nggak bisa ketemu Bu Ata hari ini kapan lagi ya?
            Namun, Tuhan memang baik sekali. Baru saja saya berpikir begitu, BB saya berkedap-kedip. Ternyata Sonya yang menanyakan kabar Bertrand dan mengundang kami ke kamar hotelnya. Saya bilang sebentar lagi selesai MRI dan akan segera ke hotel York untuk menemui mereka.
            Sesampai di kamar hotel, Bu Ata menyambut kami.
Bu Ata              : "Shalom Sis Rosi, Pak Bertrand, Oma dan Opa. Apa kabar?"
Kami                : " Baik-baik. Terima kasih.”
Mama               : "Udah mau check out ya? Sori jadi  ngerepotin. Pesawat jam berapa?"
Bu Ata            : "Jam setengah satu kami check out lalu langsung ke bandara. Pesawatnya sore."
Rosi                  : " Bu,  BBMnya koq nggak dijawab. Lagi sibuk ya?"
Bu Ata           : " Maafkan Sis, tadi kami sibuk doa dan baca firman sepakat. Saya baca BBM Sis Rosi tapi saya tau hari ini pasti kita ketemu. Lalu saya tadi ada email-email beberapa murid saya di luar."
Rosi                 : "Bingung Bu, tadi malam rasanya masih hepi-hepi aja. Bangun tidur koq galau lagi. Piye iki?"
Bu Ata          : "Itu karena Sis bangun lalu bingung, hari masih panjang, nggak tau harus bagaimana. Kalau kemarin habis kita bertemu kan sudah sore, tidak jauh ke waktu tidur. Tertulis dalam Alkitab toh bahwa  janganlah kita khawatir ( Filipi 4 : 6 )."
            Kami mengobrol asyik sekali. Papa dan Mama bercerita sekilas tentang keluarga dan pekerjaan. Bertrand dan saya juga bercerita tentang kami masing-masing. Bu Ata juga menceritakan tentang kisah-kisah pelayanannya di seluruh pelosok Indonesia maupun berbagai belahan bumi. Seru sekali ceritanya.
            Ada anak kecil yang sakit kanker di kaki, akhirnya sembuh setelah orang tua kandungnya meminta maaf. Rupanya dia anak yang tidak dikehendaki waktu dalam kandungan.
            Ada ibu sakit kanker rahim sampai perutnya buncit sekali di Mongolia. Ibu ini didoakan dan percaya bahwa Tuhan Yesus sanggup mencabut tumornya. Keesokan harinya ibu tersebut mendatangi apartemen Bu Ata dan memperlihatkan bahwa tumornya sudah tidak ada. Padahal kemarin masih teraba sebesar bola.
            Kisah lain tentang  wanita Mongolia yang mukanya selalu masam. Bu Ata berkata pada teman wanita tersebut bahwa wanita Mongolia ini terkena penyakit ginjal. Dan ternyata benar. Wanita tersebut harus bolak-balik ke Beijing untuk mencuci darah. Bu Ata menjelaskan ayat Mazmur 73:21 "Ketika hatiku terasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya...". Wanita tersebut dituntun untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, juga melepaskan kepahitannya. Selama dua tahun lamanya Bu Ata berada di Mongolia, wanita tersebut sembuh total.
            Puji Tuhan, kuasa-Nya nyata bagi setiap orang yang mau percaya. Demikianlah  iman saya bertumbuh dari pendengaran akan firman Tuhan (Roma 10:17) yang dikemas dalam kesaksian-kesaksian Ibu Ata.
            Masih ada beberapa cerita seru lainnya, termasuk Mama Bu Ata yang koma pada saat Bu Ata masih di Belanda. Papanya pernah didiagnosa kanker paru karena ditemukan bejolan sebesar koin. Pasangan-pasangan yang menikah belasan tahun akhirnya bisa punya anak. Semuanya gratis, hanya pakai firman Tuhan.
            Bu Ata menjelaskan umat Tuhan binasa karena kurang pengetahuan akan firman. Kita malas baca alkitab, tidak menggali kekayaan dan kuasa dalam firman jadi begitu ada masalah yang ada lemas, galau dan khawatir. Jelas-jelas Tuhan bilang bahwa kekhawatiranmu tidak akan menambah sehasta dari jalan hidup. Karena khawatir, badan memproduksi hormon stres dalam tubuh. Hormon stres itu merusak metabolisme tubuh. Sakit deh akhirnya. Keren juga ya, firman Tuhan bisa diaplikasikan oleh dokter, pikirku.
       Bu Ata juga memberi penjelasan tentang firman bahwa rancangan Tuhan adalah rancangan damai dan bukan rancangan kecelakaan. Apabila kita berseru, berdoa maka Tuhan akan mendengarkan. Apabila kita mencari Tuhan, makan kita akan menemukanNya dan Tuhan akan memulihkan kita. ( Yeremia 29:11-14)
            Tiba-tiba Mama bercerita kalau lututnya sering sakit. Bu Ata pun memperhatikan dan menjelaskan bahwa sakit kaki itu karena ada penyempitan di saraf tulang belakang nomer sekian ( saya lupa ). Mama membenarkan diagnosa itu karena sudah pernah periksa ke dokter dan hasilnya demikian.
            " Hebat amat Bu, bisa tau tanpa pake alat - alat " seruku.
            "Tuhan yang beritahu saya. Sebagai dokter, harusnya saya mendiagnosa berdasarkan bukti-bukti ilmiah seperti ronsen. Tapi bukan saya yang hebat, Tuhan yang maha tahu. Saya hanya hamba, kemulian semua buat Tuhan," jawab Bu Ata. Beliau lalu mendoakan sakit lutut Mama dan mendoakan kesehatan Papa.
            Bu Ata mendoakan saya juga. Beliau mengetahui dengan pasti penyakit maag kronis menahun saya. Bu Ata juga tahu saya sedang migren. Karena kurang tidur berhari-hari, memang kepala saya rasanya sudah mau meledak. Berat sekali rasanya.
            Beliau mengangkat tangan dan mendoakan saya kurang lebih seperti ini:
"Tuhan Yesus, Engkau adalah raja segala raja. Disini anakMu, Rosi menghadap Engkau. Dia telah mengalami banyak kepahitan, dia banyak mendengar kata-kata yang buruk, dia banyak dikhianati dan mendapat sakit hati. Kiranya kau urapi dia Tuhan, berilah Rosi hati yang baru yang bisa mengampuni, pengampun, yang tidak mengingat-ingat lagi yang buruk. Bersihkanlah hatinya, pakailah dia menjadi muridMu karena Rosi mempunyai hati seorang hamba. Tuhan, pada saat di kayu salib, lambungmu dihunus tombak...bolehlah kiranya kami minta sedikit saja daging dari lambungMu untuk menyembuhkan maag Rosi."
            Pada saat di doakan rasanya ingin sekali saya menangis tapi saya tahan sekuat hati karena malu sama Papa dan Mama. Lalu pada saat Bu Ata meminta daging dari lambung Yesus...beliau menaruh tanganya pada ulu hati saya. Rasanya dingiiiiiiiinnn sekali, nyaman sekali.
            "Tuhan, pada saat dimahkotai duri. KepalaMu berlumur darah. Engkau disalib untuk menebus dosa kami, kelemahan kami dan penyakit kami. Kiranya boleh Kau urapi Rosi kembali agar tidak migrain lagi. Terima kasih Tuhan. Amin."
            Pada saat itu, Bu Ata memegang kepala saya dan rasanya, oh, Tuhan, sakitnya minta ampun seperti tertusuk duri. Kepala saya rasanya berputar dan seperti mau limbung. Saya tahu Tuhan benar-benar hadir, saya bisa merasakan kehadiranNya dan detik itu juga saya tahu bahwa saya sudah sembuh. Dan ini benar-benar terjadi, penyakit maag saya sembuh sampai sekarang. Paling ada perih sedikit saja kalau saya telat makan atau masuk angin.
            Akhirnya sesi yang saya tunggu datang juga. Bu Ata sekali lagi mendoakan Bertrand. Beliau mengambil minyak wanginya. (pengurapan biasa memakai minyak. Minyak apa juga boleh ) dan berdoa, kira-kira seperti ini :
            “Tuhan, Engkau yang menenun Bertrand sejak dalam kandungan. KaryaMu sungguh agung dan sempurna. Engkau mengetahui semua yang ada dalam tubuh Bertrand dari ujung kepala sampai ujung kakinya. Tidak ada satu sel pun yang luput dari mataMu, Tuhan. Di sini kami semua berkumpul dan sepakat bahwa setiap penyakit yang ada dalam tubuh Bertrand akan hilang. Dia akan sembuh dan sempurna seperti yang Kau buat. Kami percaya dan pegang firmanMu Tuhan, bahwa setiap tanaman yang tidak ditanam oleh BapaKu akan dicabut sampai akar-akarnya. Kami tahu Tuhan, benjolan dalam tubuh Bertrand bukan berasal dari padaMu. Kiranya Engkau cabut, Kau buang dan Kau bakar. Terima kasih Tuhan, biarlah mujizatMu terjadi. Amin."
            Sehabis berdoa, mereka siap-siap meninggalkan kamar untuk check out. Saat itu saya masih ngeyel nanya-nanya ke Bu Ata...pengen bener Bu Ata bilang bahwa Bertrand sudah 100% sembuh. Saya tanya bagaimana kalau hari Senin ternyata hasil biopsi jelek, Bertrand positif kanker.
             Bu Ata tertawa dan menjawab, "Biar saja hasilnya apa. Bersuka citalah. Itu hasil hanya secarik kertas. Tidak usah khawatir, sekarang tangan Tuhan sedang bekerja mengobrak-abrik itu preparat biopsi. Dokter akan tercengang nanti hari Senin." Kami pun berpelukan dan berpisah
            Berpisah dengan mereka membuat saya sedih. Ada yang kosong rasanya di hati. Aneh, padahal kami saling mengenal tidak sampai 24 jam, tapi rasanya seperti sudah dekat sekali. Saya pendam rasa ini, nggak  saya ceritakan sama Bertrand, apalagi sama Papa dan Mama.
            Dari hotel York kami berjalan kembali ke rumah sakit untuk mengambil hasil MRI otak. Bertrand membuka dan membaca hasilnya. Puji Tuhan, semua bagus. Tidak ada tanda-tanda penyebaran sampai ke otak. Hasil MRI itu kami bawa ke lt 14 untuk disimpan di klinik Prof. Dr. Philip Eng.
            Hari itu kami habiskan dengan berjalan-jalan di Bugis Street dan Orchad saja. Saya menyempatkan waktu membeli alat tulis Smiggle titipan Patricia. Tiap hari dia BBM saya menanyakan sudah dibeli atau belum alat tulisnya. Saya pun mencoba menghabiskan hari ini dengan suka cita.
           

                                                                       Aming, Rosi dan Herry